Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 September 2015

Singapura!!! Catatan Perjalanan Jakarta - Kuala Lumpur - Singapura – Bandung (Part 3)

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillah sempet buat ngisi blog ini lagi di samping kegiatan "kerja" saya (Alhamdulillah udah dapet kerja di salah satu kontraktor tambang, cerita perjuangannya udah ada di sini) .

Kali ini saya mau lanjutin cerita perjalanan saya yang tertunda hampir 1 tahun. Perjalanan di Singapore!!!

Akhirnya kesampean juga ngelanjutin bikin blog ini. Meneruskan catatan perjalanan sebelumnya dari Kuala Lumpur, saya melanjutkan perjalanan saya ke Singapura. Transportasi yang dapat digunakan untuk sampai Singapura dari Kuala Lumpur pun bermacam, mulai dari bus, kereta, pesawat komersial, helicak pun juga bisa digunakan kalau punya. Saya memilih menggunakan bus untuk pergi ke Singapura karena tarifnya yang murah dan biar feeling traveler-nya lebih terasa.

Untuk mencari bus dari Kuala Lumpur ke Singapura paling mudah ialah mencari dari Terminal Bersepadu Selatan (TBS), yang sesuai namanya berada di sebelah selatan kota Kuala Lumpur. Untuk mencapai TBS ini dapat menggunakan berbagai macam moda transportasi pula. Kalau bingung, “kok nggak ada nama Terminal Bersepadu Selatan di stesen LRT maupun Komuter”, tenang. Setelah saya selidiki, ternyata TBS ini bisa didatangi dengan menuju ke arah Bandar Tasik Selatan. Tinggal lihat peta transportasi yang kemarin saya pernah berikan, lalu rencanakan perjalanan kalian.

Sesampainya di TBS, saya terpukau dengan terminal bus yang layaknya sebuah Bandara. Bersih, modern, keren lah pokoknya. Beda jauh dari Terminal Lebak Bulus maupun Pulo Gadung. Yang saya senang dari pelayanan di sini ialah pembelian tiket bus di sini telah terintegrasi. Jadi saat saya bilang mau pergi ke Singapura, mereka akan memberikan pilihan-pilihan tujuan di Singapura-nya maupun harganya. Saya pesan bus yang tercepat berangkatnya dan murah, AeroBus. Kira-kira dengan seharga 120 ribu rupiah sudah dapat sampai di daerah Golden Mile Complex, tidak jauh (bagi saya) dari penginapan saya di daerah Bugis. Oke, tiket sudah didapat lalu turun 1 tingkat ke platform keberangkatan. Terminal keberangkatannya pun sudah seperti Bandara di Indonesia, nyaman, teratur, dll lah. Pada waktu yang telah ditentukan, bas pun berangkat.


Tiket Bus di TBS

Mejeng di dalam terminal yang gaul

Tujuan akhir kami adalah Golden Mile Complex, tetapi sebelum sampai Singapura bus ini sempat sempat menurunkan penumpang (selain buat imigrasi) di dekat Universiti Teknik Malaysia dan di Terminal Larkin. Kedua tempat ini berada di Johor Bahru (JB), setengah jam perjalanan ke perbatasan Singapura – Malaysia. Akhirnya sampailah kami di Imigrasi Malaysia, kalau bingung harus kemana-mananya prinsipnya satu, ikutlah arus yang ada. Siapkan paspor Anda, hapalkan kendaraan Anda (bentuk dan nomer kendaraannya). Kalau keluar Malaysia sepertinya tidak terlalu strict dalam mengeluarkan bagasi dari bus. Setelah lewat di sini lalu turun ke tempat tunggu busnya, dan segera samperin busnya. Dan bus pun berlanjut ke Woodlands, imigrasi Singapura.

Nyebrang Selat Singapura-Malaysia

Di Woodlands, kami dianjurkan untuk membawa semua bagasi kami. Seperti biasa, ikut arus yang ada. Nah, sebelum masuk ke bagian yang pengecapan itu HARUS mengisi kartu imigrasi yang disediakan di sebelah kanan setelah masuk ruangan utama itu. Masuk ke bagian imigrasi, tanya-tanyain pertanyaan standar, nanti sobekan kertas imigrasinya dikembalikan buat disimpan dan di ambil pas mau pulang. Lalu naik bus lagi, dan sampailah kami di Golden Mile Complex. Perjalanan kami memakan waktu 6 jam, karena penumpang lain pada ilang-ilangan. Harusnya paling cepat bisa hanya 4 jam perjalanan.

Seturunnya dari bus, kami menuju ke Hostel dengan berjalan kaki. Setengah jam waktu yang dibutuhkan oeh kami untuk sampai di Hostel kami, Cozy Corner Backpacker. Di sana kami check in dan bersih-bersih diri dulu, setelahnya kami melanjutkan jalan-jalan kami ke Patung Merlion.

Hari – 1 : Singapura, Merlion dan sekitarnya

Beruntung, hostel kami berada di seberang Bugis Junction yang merupakan sebuah Mall dan juga jalan masuk ke MRT Bugis. Jadi kalau mau jalan-jalan naik MRTnya dekat. Dari Bugis, kami mau ke arah Raffles Place. Sistem pembayaran MRT di Singapura ini sudah canggih, ada 2 tiket yang bisa digunakan untuk naik MRT ini.

Jenis 1: Standar Card

Jenis ini kayak kartu kertas biasa dimana mesti deposit 0,1 SGD untuk kartunya.
Kelebihan: Depositnya murah
Kekurangan: Mudah rusak, hanya 5x pakai (sisa deposit bisa dikembalikan setelah pemakaian ketiga), tidak bisa digunakan selain di MRT, setiap naik MRT harus diisi (macem token di Malaysia)

Jenis 2: EZ-Link dan 1 lg (tp saya lupa namanya apa)

Kelebihan: Kartunya setebal ATM, bisa berkali-kali pakai selama 5 tahun, bisa digunakan selain MRT (macem Prepaid Card), tinggal tempel2 aja, diskon 15% buat naik MRT (kalo g salah)
Kekurangan: harganya 5 SGD, sekali isi kartu minimal 10 SGD, minimum isi kartu supaya bisa dipake 3 SGD

Silakan dipikir-pikir mana yang cocok buat kalian. Saya pilih EZ-Link dan kartu ini juga bakal berguna di USS.

Keadaan di salah satu MRT Station di Singapura

Lanjut di Station MRT, tinggal tempel kartu, ngantri MRT, naik MRTnya, turun deh di Raffles Place. Cari yang keluar ke Battery Road. Sekeluarnya dari gedung langsung hadap kanan. Ketemulah si Singapore River yang terkenal itu. FYI, konon di daerah inilah om Raffles turun di Singapura ini dan menjadikan kota Singapura yang dulunya entah apa-apa menjadi salah satu kota persinggahan kapal yang ternama dan berkembang seperti sekarang ini.

Di sini ada berbagai spot foto yang menarik yaitu Cavenagh Bridge (jembatan tua tapi artistik), The Fullerton Hotel, tempat mendaratnya Raffles (nyebrang jembatan dulu). Setelah puas foto-foto di daerah ini, saya menuju tempat foto utama di daerah ini, Merlion! Merlion terletak di seberang Fullerton Hotel yang nyebrang Esplanade Road. Pokoknya klo udah liat patung Singa Laut dan rame berarti udah bener jalannya.

Cavenagh Bridge

Dari sini bisa foto-foto sepuasnya, mau ke arah Merlion, Esplanade, sama ke arah Marina Bay juga bisa. Di tempat ini saya menghabiskan waktu sekitar ½ jam buat menikmati malam di Singapura. Setelah capek kami balik ke Hostel lewat jalan yang sama (takut nyasar malem-malem).

                              Fullerton Hotel             Tempat Raffles pertama kali merapat di Singapura


Mejeng bareng singa paling terkenal di Singapura


Hari – 2: Singapura, Universal Studio Singapore (USS)
Udah diceritain di sini ya..

Sentosa Resort World

Hari – 3: Singapura, Orchard Road – Istana Merdeka – Little India – Mustafa Center - Bugis

Setelah tercengang-cengang ria dengan tontonan kelas dunia di USS kami berencana untuk membeli oleh-oleh hari ini di Mustafa Center. Mustafa Center ini berada di daerah Little India.

Tetapi sebelum ke daerah ini kami penasaran dengan jalan paling terkenal di Singapura, Orchard Road (mungkin orang Indonesia aja sih yang bilang gitu). Kami meluncur lah ke stasiun MRT Orchard, sampai di sana kami disuguhkan berbagai macam mall-mall serta ada RS Elizabeth yg terkenal itu (terkenal g sih? anggep aja terkenal). Kami berjalan ke arah stasiun Dhoby Ghaut, di pinggir jalan orchard road ada Istana Park yang berada tepat di depan pusat pemerintahan Singapura. Setelah puas jalan kaki, kami meluncur ke destinasi selanjutnya, Little India. (gambar di orchard tidak banyak karena keadaan hujan gerimis).

Mejeng di Orchard Road (jangan perhatiin kaosnya, beda kok sama yg dipake di Merlion :p)

Di Little India kami disuguhkan orang-orang bermuka India (kalau ketemu orang muka jawa mungkin disebutnya Little Java). Kami berjalan menyusuri Serangoon Rd menuju Mustafa Center. Sepanjang jalan ini kami disuguhkan ornamen-ornamen khas India. Tidak begitu jauh berjalan kami sampai di Mustafa Center.

Mustafa Center itu semacam one-stop shopping place. Hampir semua barang kebutuhan sehari-hari ada di sana, selain itu barang pecah belah, pakaian, bahkan coklat untuk oleh-oleh juga dijual di sini. Sebelum saya ke Singapura, saya pernah diberikan coklat oleh-oleh dari Mustafa Center, ternyata coklat-coklat bertuliskan Mustafa Center ini biasanya berpromo (beli 2 gratis 1) jadi yang dulu merasa saya kasih no hard feeling ya. :D Di sini agak mahal kalau mau cari oleh-oleh yang ada tulisan-tulisan Singapore nya.

Oleh karena itu, setelah itu saya bertolak kembali ke hostel, karena di dekat hostel saya (Bugis) ada pasar yang menjual oleh-oleh dengan harga miring. Ada gelas, gantungan kunci, baju-baju yang bertuliskan Singapore dengan harga miring. Salah satu recommended place buat cari oleh-oleh ini di Bugis Market (nggak salah dulu milih hostel di sini).

Mejeng di daerah Bugis

Salah satu hal lain yang saya suka dari daerah Bugis ini adalah lumayan dekat dengan daerah Arab (Jl. Arab) yang menyediakan makanan-makanan khas timur tengah. Martabak mutton-nya BOSS… Mantap! Nasi Briyani-nya… Sedap!

Nasi Briyani (biar nggak dibilang Hoax)

Saya agak sulit (bukan nggak ada) nyari makanan model begini di Jakarta. Sayangnya makanan-makanan di sini harganya pake standar Singapura jadi terlihat mahal sama kita yang standarnya Nasi Goreng cuma 10 rebu.

Hari – 4: Singapura - Bandung

Dengan berat hati, kami harus bertolak kembali ke tanah air. Kalau mau pulang pake pesawat, untuk menuju Changi dapat menggunakan MRT ke Tanah Merah dan melanjutkan ke Changi.

Kalau kata orang-orang, Changi salah satu bandara paling indah di Asia Tenggara. Saya sih waktu masuk memang tercengang dengan fasilitasnya. Di sini ada 3 terminal utama yang masing-masing dihubungkan dengan monorel khusus airport (gratis). Di Changi juga dapat meminta refund GST barang-barang yang telah dibeli di Singapura, jadi lumayan lah duitnya bisa beli nasi kuning depan mess. Saya urus-urus boarding pass dan lain-lain serta imigrasi di sini. Dan akhirnya saya kembali ke tanah air. Sampai jumpa lagi Singapura.. T_T
Sekian dulu blog saya tentang jalan-jalan di Singapura. Semoga bermanfaat untuk teman-teman yang berencana mau travelling ke sana. Saran dan kritiknya dinanti ya. Sampai ketemu di blog saya yang lain lagi..

Akhir kata,
“Perjalanan ribuan mil selalu dimulai dengan langkah pertama” – Lao Tzu
Wassalamualaikum Wr. Wb.



Tag: Travelling Singapura, jalan-jalan, Malaysia – Singapura, Merlion Park, Bugis

Senin, 07 April 2014

USS (Universal Studio Singapore) Catatan Perjalanan Jakarta - Kuala Lumpur - Singapura – Bandung (Part 3.1)

Assalamualakum Wr. Wb.

Setelah lama sekali bahasan catper saya jalan-jalan ke negeri jiran hanya mengendap di otak saya, akhirnya keinginan buat lanjutinnya ada lagi. Postingan catper sebelumya membahas tentang perjalanan saya selama di Malaysia, tetapi saya ingin membuat postingan khusus mengenai jalan-jalan di USS karena sepertinya kalau hal ini dimasukkan ke Singapore semua bakal terlalu banyak.

Oke, seperti kalau ke dufan, setiap theme park kalau mau masuk tentunya harus membeli tiket terlebih dahulu. Harga tiket kalau beli on the spot adalah 74 SGD, weekend maupun week day sama saja, sama-sama bayar mahal. Nah, kalau kalian rajin main ke kaskus (saya sarankan) kalian bisa dapat harga tiket yang lebih miring. Harga tiket baru kalau beli online via travel agent ialah sekitar 55 SGD. Nah, kalau ada tiket baru berarti ada yg g baru dong? Yup, bener banget, ada beberapa orang yang udah terlanjur beli tiket fisik tapi sayangnya dia berhalangan buat pergi kesana jadinya seringkali ada yang jual tiket mereka di beberapa forum jual beli (kaskus contohnya). Saya sarankan tetap berhati-hati dalam transaksi, lebih baik waspada dan membayar lebih mahal daripada menyesal kemudian.


Contoh Tiket dari Travel Agent


Contoh Tiket Fisik (on the spot maupun yang telah ditukarkan)

Saya membuat tulisan ini berdasarkan pengalaman saya selama kesana bulan November 2013 kemarin. Saya pergi ke tempat tersebut pada weekday (Senin kalau tidak salah). Keadaan saat weekday dan weekend akan berbeda dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing (berdasarkan pengalaman teman saya juga sewaktu weekend kesana).

Kelebihan weekday (kebalikannya adalah kekurangan weekend):
-Antrian lebih wajar
-Bisa menikmati seluruh wahana yang ada
-Foto-foto lebih enak (kemungkinan terjadi photobombing lebih kecil)

Kelebihan weekend :
-Ada wahana yang buka hanya pada weekend
-Terdapat parade-parade yang eksklusif
-Lebih ramai tentunya

Untuk menuju USS ini bisa menggunakan berbagai macam moda transportasi, mobil (tentunya), monorail, dan lain-lain (saya tidak hapal juga, :p). Karena saya salah satu traveler kere, saya naik monorail saja. Monorail untuk menuju USS (Sentosa Island umumnya) berada di Vivo City (dari MRT Singapore turun di sini ya) lantai agak atas (baca petunjuk aja) dan berbeda jaringan dengan MRT yang ada di Singapore. Karena saya pake kartu gaul buat jalan-jalan di Singapore (Ez-Link), saya tinggal tempel aja tuh kartunya di mesin gaul MRT (mesti ada isinya ya, 4 SGD kalau nggak salah). Punya kartu ini menurut saya akan memudahkan selama nanti ke USS, nanti akan saya jelaskan. USS merupakan perhentian pertama di Sentosa, begitu turun ikuti aja orang kebanyakan pada kemana (jurus ampuh traveler, terutama sewaktu di imigrasi).

USS buka jam 10 pagi, saya menyarankan teman-teman datang jam 9 paginya. Karena bagi yang membeli tiket lewat travel agent, tiket tersebut harus ditukarkan terlebih dahulu di basement di bawah pembelian tiket biasa. Setelah tukar tiket sembari menunggu harapan pintunya dibuka, kegiatan wajib di sini adalah foto-foto di bola dunia yang muter-muter itu. Saya sarankan kalian datang minimal berdua, karena butuh minimal satu teman untuk memfoto Anda (jurus lain traveler).


Bola USS yang Muter-muter Terus


Ada Po di pintu masuk, Lala-nya kemana ya?

Menunggu jam 10, ada beberapa mas mbak penjaga pintu USS yang mulai berceloteh, saya sarankan langsung minta peta sama mereka (hukumnya wajib, kalau mau menikmati semua wahana). Di peta itu terdapat daftar seluruh wahana yang ada dan juga penjelasannya (basah-basahan, atau di jungkir balikkan). Berikut peta USS secara umum:


Peta USS
(http://www.rwsentosa.com/language/en-US/Homepage/Attractions/UniversalStudiosSingapore/USSMap)

Saya melakukan beberapa kali putaran di areal USS ini. Putaran pertama adalah wahana yang direkomendasikan untuk dinaiki (karena akan penuh setelah siang), putaran kedua menaiki wahana yang belum dinaiki, putaran ketiga? Foto-foto pastinya..


Salah satu sudut kota New York-nya USS

Foto Bareng Mobil Idaman

Selain wahana yang selalu terbuka, ada juga wahana yang berbentuk show dan hanya ada pada jam-jam tertentu. Saya melakukan putaran berkebalikan arah jarum jam (kayak lari keliling lapangan trek..). Wahana yang saya tumpangi pada putaran pertama (favorit) adalah: Transformer, Revenge of The Mummy, Shrek, Madagascar Crate Advanture. Saya melewati Jurasic Park karena dia basah-basahan, berhubung saya paginya sudah mandi, makanya saya berencana untuk mandi siangnya di sana. Sebenarnya saya ingin menceritakan bagaimana wahana di sana, tetapi akan terlalu banyak spoiler nanti.

Tadi saya menyebutkan mengapa harus bawa kartu gaul. Fungsi kartu gaul itu adalah membawa uang dalam selembar kartu. Hubungannya apa? Nanti di sana kalian akan mendapati wahana-wahana yang basah-basahan atau dijungkir-balikkan, kalau mau aman maka barang-barang tersebut akan dititipkan di safe deposit box, dan pembayaran safe deposit box ini (ada yang free untuk waktu yang ditentukan, contohnya sebelah mummy) menggunakan kartu gaul itu.

Alhamdulillah USS menyediakan musholla di antara areal mummy (Ancient Egypt) dan Transformer (Sci-Fi). Untuk makanan, di map juga telah ditunjukkan restoran mana saja yang terjamin kehalalannya.

Ada beberapa kesan yang masih tersisa dari saya selama di sana. Kesan yang paling saya ingat adalah USS ini merupakan pertunjukkan kelas dunia, DUFAN? Bagaikan kaleng-kaleng kerupuk ajalah.. Worth dengan harganya. Saya tidak punya rasa penyesalan mengeluarkan uang sebesar itu dengan disuguhkan pertunjukkan yang menurut saya WOW.


Foto Bareng Bule

Main-main ke Far-far Away

Silaturahmi Ke Rumahnya Shrek

Kesan buruk? Saya pernah selagi mengantri bersama teman saya dan di depan saya ada 2 orang yang mempunyai wajah seperti orang dari semenanjung hindia. Setelah sekitar 5 menit mengantri, dan di belakang saya juga telah banyak orang mengantri, 2 orang itu melakukan gestur2 tubuh memanggil temannya. Saya kira hanya 1-2 orang yang datang, eh sekampung pulak yang nyelak.

Kalau di USS ada keuntungan jika Anda Single Fighter kesana. Ada jalur khusus untuk single fighter ini dan dapat melewati banyak antrian. Buat yang berdua jangan ragu-ragu kalau ada petugas yang memanggil “2 person, 2 person” langsung sigap. Karena teman-teman dapat menghemat hidup kalian beberapa menit dari mengantri.

Sekian dulu berbaginya, kalau ada yang ditanyakan silakan PM saya saja. Siapa tahu bisa dibantu kalau saya ada waktu.
Semoga postingan ini berguna untuk teman-teman sekalian. Sampai jumpa lagi di postingan berikutnya.

“Travel is the only thing you buy that makes you richer.” – Unknown

Wassalamualakum Wr. Wb.

Selasa, 31 Desember 2013

Travelling Pulau Jawa: Waduk Sempor – Kab. Kebumen


Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah diberikan keinginan kembali buat ngeblog sama Yang Di Atas.
Kali ini saya mau berbagi tentang wisata alternatif, yang bernama Waduk Sempor.

Waduk Sempor

Waduk Sempor ini terletak di koordinat 7o 33’ 58.2” lintang selatan dan 109 o 29’ 8.5” bujur timur atau di Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen. Walaupun terletak di Kabupaten Kebumen, waduk ini berada sekitar 40 km dari Kota Kebumen itu sendiri. Kalau ingin ke waduk ini bisa dengan menggunakan mobil pribadi dari Gombong (berada di jalan lintas selatan jawa antara Cilacap dan Kebumen) lalu ke utara sekitar 8 km mengikuti jalan utama.

Denah Waduk Sempor dari Gombong

Waduk Sempor ini merupakan danau buatan seperti Waduk Saguling dan Waduk Cirata yang berada di Purwakarta, Jawa Barat sana. Waduk ini juga dipergunakan oleh PLN untuk membangkitkan listrik sebesar 1 MW (Swaramuda, 2011). Dibuat sekitar 35 tahun lalu (Suara Merdeka, 2013), waduk ini masih berfungsi sebagaimana mestinya. Beberapa kecelakaan pernah terjadi seperti November 2013 yang lalu, dimana air di waduk ini meluap akibat tidak kuat menampung air dari hujan yang besar saat itu.

PLTA Sempor

Waduk ini mempunyai pemandangan yang indah dimana di seberang viewpoint saya waktu ke tempat ini di tumbuhi oleh pepohonan yang asri. Tempat ini cocok untuk menghilangkan penat setelah bekerja semingguan.

Pemandangan dari viewpoint ke utara

Berbagai jenis wisata ada di sini, mulai dari wisata makanan yang disediakan di warung-warung sekitar tempat parkir, pemancingan (dengan membawa peralatan sendiri tentunya), maupun yang ingin sekedar menikmati keindahan waduk ini dengan menumpang kapal yang dapat disewa di salah satu sudut waduk.

Pemandangan dari viewpoint ke timur

Bagi beberapa teman yang senang tidur di atas tanah, di dekat Waduk Sempor ini tersedia bumi perkemahan yang dapat dipergunakan untuk menginap di akhir pekan maupun ada acara gathering.

Pemandangan dari viewpoint ke arah selatan

Pada waktu saya masuk ke tempat ini saya kebetulan tidak diminta retribusi untuk masuk daerah wisata ini, jadi jika akan ke tempat ini pada akhir pekan diharapkan mempersiapkan uang untuk masuk tempat ini.

Sekian isi blog saya yang singkat ini. Semoga dapat dijadikan acuan untuk liburan alternatif teman-teman sekalian. Sampai ketemu lagi di lain waktu.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Sabtu, 16 November 2013

Catatan Perjalanan Jakarta - Kuala Lumpur - Singapura - Bandung (Part 2 - Kuala Lumpur)


Assalamualaikum Wr. Wb.

Melanjutkan postingan saya sebelumnya yang menceritakan bagaimana pusingnya memesan tiket, hostel dll, kali ini saya mau bercerita tentang perjalanan saya 7 malam – 7 hari di negeri orang ini. Berbekal uang yang cukup (saya membawa uang sekitar 2 juta rupiah dalam bentuk ringgit, dan 2 juta rupiah dalam bentuk Singapore Dollar, tapi tenang saya hanya memakai kurang dari setengahnya), tiket-tiket online yang telah di print sebelumnya (pesawat, hostel, tiket USS), paspor, dan barang-barang survival di sana seperti dalaman dan lainnya, saya bertolak ke Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Buat AirAsia semua keberangkatan setau saya menggunakan terminal 3 ini. Kalau naik bus Damri biasanya sampai setelah terminal 1 dan 2. Bentuk terminal 3 ini cukup berbeda dan futuristik disbanding 2 terminal di Soekarno-Hatta lainnya.

Oke lanjut check in di dalam (kalau sudah biasa naik pesawat udah lincah lah ya). Oiya jangan lupa siapkan uang 150 ribu rupiah untuk airport tax buat perjalanan ke luar negeri. Nanti diberikan pada saat check in. Setelah beres check in langsung tunggu di gate yang sudah disebutkan oleh petugas airasianya tadi. Pintu keberangkatan ada di lantai 2 bangunan ini. Nanti di atas ada 2 jalur, sebelah kiri jalur luar negeri, sebelah kanan jalur dalam negeri. Di jalur luar negeri nanti langsung diperiksa sama petugas imigrasinya, trus hand luggagenya di cek. Saya beruntung berhasil lolos bawa air lebih dr 100 mL padahal ini dilarang (jangan ditiru). Akhirnya berangkatlah saya ke Kuala Lumpur.

Hari – 1, KL: Chow Kit

Di Malaysia saya disuguhkan pemandangan hutan sawit. Sepanjang jalan ketemunya hutan sawit, perumahan-perumahan pinggir jalan sulit ditemukan (tampak dari pesawat). Saya tiba di KLIA tapi di LCCT (AirAsia dan penerbangan murah lainnya melalui terminal ini.  Ada beberapa moda transportasi yang bisa digunakan untuk sampai KL (KL Sentral umumnya). Saya ambil perjalanan yang paling murah, naik AeroBus seharga 8 RM (Ringgit Malaysia). Turun dari bus saya langsung merasa lost..
Saya diturunkan di semacam basement suatu gedung. Yang saya tahu pasti, ini namanya KL Sentral (bukan KLCC) dan saya mau ke Chow Kit (hostel saya) dengan menggunakan monorel. Setelah loading beberapa saat saya menemukan papan tulisan untuk ke monorel. Ternyata stesen (maap ngikut gaya melayu) monorel di KL Sentral ini letaknya cukup ngumpet di dekat ruko-ruko. Sampai di tempat pembayaran saya loading lagi. Saya bayarnya gimana? Maklum orang kampung belom pernah naik monorel.

Nah ternyata untuk bepergian dengan public transport di KL ini ada beberapa jenis.
Jenis 1: Monorel (Rute: KL Sentral – Titiwangsa)
Jenis 2: LRT (ada 3 line)
Jenis 3: KTM Komuter (KRLnya Jakarta lah)
Jenis 4: Bas (saya tidak pakai ini)
Biasanya 3 jenis transport ini akan ter-semi-integrated-kan di beberapa stesen. Berikut petanya secara lengkap:
Peta Lengkap Public Transport KL (wikimapia)

Untuk 2 jenis awal dan jenis 4 dari public transport di atas itu dikelola oleh RapidKL dan jenis 3 oleh KTM. Yang dikelola oleh RapidKL bisa menggunakan kartu yang bisa diisi ulang ataupun token. Saya pilih token saja, karena nggak ribet sepertinya. Cara belinya ada 2, via mas-mbak yang di konter tiap stesen atau yang lebih gaul lewat vending machine. Karena saya masih katrok waktu pertama kali dateng saya beli lah di mas-masnya pake bahasa Indonesia. Setelah bayar (tentunya) saya diberikan token tersebut.


Token RapidKL


Trus klo udah punya token cara masuknya gmana? Nih saya kenalin sama mesin horror pertama saya setelah sampe KL.
Mesin Masuk RapidKL

Narsis sebelah Monorel


Ternyata caranya gampang, tinggal tempel tokennya di mesin, nanti pintunya buka, naik monorel (LRT juga sama), trus tokennya disumbangin ke yang berwajib (mesin horror) setelah keluar stesen. Buat perjalanan selanjutnya saya tidak perlu ke mas-mbaknya lagi karena udah gaul pake vending machine yang ada tiap stesen.

Akhirnya sampai lah saya di daerah ChowKit. Hal pertama yang saya pikirkan di daerah ini ada 1, ini pasti daerah yang banyak orang Indonya. Dan tebakan saya tepat. Sekali tanya sama orang di sini ngakunya orang jawa timur, mau beli nasi goreng yang jual nawarin pake bahasa jawa, beli nasi campur yang jualan malah dari medan. Menurut saya daerah ini cukup Hommy lah buat traveler dari Indonesia. Oke, singkat cerita setelah nyasar gara2 nggak ngikutin penjelasan dari hostelnya, kami check in di hostel yang telah saya pesan sebelumnya. Setelah mandi-mandi dan istirahat sejenak kami beranjak keluar untuk cari udara malam KL.
Kongkow dekat hostel

Kami jalan-jalan di sekitar hostel, banyak tukang jualan di depan hostel saya tapi ya macem-macem pasar tanah abang yang kena gusur itu lah. Tapi lumayan bersih kok. Saya saranin kalo masih di KL mau beli snack dan kawan-kawan beli aja di toko kelontong, karena kalau di 7Ele*en jatuhnya lebih mahal. Setelah mengagumi indahnya KL tower dan Twin tower di malam hari dari dekat hostel kami pun kembali ke hostel dan beristirahat dengan nyaman.

Hari – 2, KL : Batu Caves, KLCC (Twin Tower), KL Tower

“Di balik dengkul yang kuat terdapat jiwa traveller yang hebat.” – Pambudi, 2013
NB: kebanyakan jalur yang saya gunakan mengandalkan dengkul yang kuat.

Perbedaan waktu antara KL dan WIB adalah 1 jam dimana KL 1 jam lebih dahulu (Walaupun tidak banyak berpengaruh pada saya).
Saya bangun pagi dan siap buat lanjut jalan-jalan dengan destinasi pertama saya adalah Batu Caves. Untuk mencapai Batu Caves dari Chow Kit bisa menggunakan KTM Komuter maupun Bas. Saya menggunakan Komuter karena beberapa literatur menganjurkan untuk menggunakannya.
Masalah pun datang, dari Chow Kit ke Putra Stesen (Stesen Komuter) cukup jauh. Kalo mbah gugel map bilangnya 2 KM dari Hostel saya. Berbekal dengkul yang masih sehat kami berangkat ke stesen Putra. Yah, sekitar 15 menit jalan kaki sudah sampai. Setelah beli tiket buat ke Batu Caves kami naik komuter tersebut. Kami kira Batu Caves masih jauh dari Stesen Batu Caves, ternyata patung-patung dan tebing gamping pun sudah menyambut kami setelah kami keluar stesen.

Batu Caves ini merupakan salah satu tempat peribadatan umat Hindu (India banyaknya) dimana tempat ini merupakan gua yang cukup besar (Saya kira bacanya menggunakan bahasa Indonesia, Batu Caves. Ternyata harusnya Batu Keifs, menggunakan bahasa gaul melayu-inggris)
Berikut foto-fotonya:
Pada kenal kan ini siapa?

Yap, tangganya lumayan tinggi..

Masuk tempat ini gratis kok, modalnya cuma 1, DENGKUL. Yap, dengkul. Liat tangga sebelah patung emas itu? Karena buat masuk kesana harus naik tangga berjumlah 224. Yah, sehat lah pagi-pagi naik tangga. Di dalam kami disuguhkan terompet-terompet khas India yang kayak di filem-filem Hollywood, eh Bollywood. Kayak di India banget lah rasanya.
Ini foto-foto dalemnya:
Dalam Batu Caves

Pura Utama di Batu Caves


Lanjut perjalanan ke KLCC. Menurut teh Gugel Maps, kami harus naik Komuter lagi dari Batu Caves sampai KL Sentral terus lanjut ke KLCC naik LRT. Oke, challenge accepted. Naiklah kami ke Komuter trus turun di KL Sentral. Pertama liat, kok KL Sentralnya terlihat beda dengan sewaktu kami turun bas dr LCCT? Lebih futuristik bukan basement-basement entah apa kayak kemarin. Ternyata setelah ditelusuri, kami kemarin itu di tempat turun bas dan kalau ke monorel tidak lewat tempat yang gaul gini. Setelah ngegalau bentar di sini kami lanjut naik LRT ke KLCC.
Lobby KL Sentral

Stesen LRT di KLCC terletak di bawah agak samping dari twin tower. Yap, dekat sekali! Kami isenglah lewat mal Suria yang sering diomongin orang. Ternyata biasa aja, macem-macem Taman Anggrek dan semacamnya. Setembusnya dari Mal Suria, kami tiba di taman KLCC.

WOW!!!

Kami disambut oleh taman keren KLCC dengan hiasan kolam yang ada air menari-nari dan pemandangan di atas kami langsung twin tower. Karena panas kami berteduh di taman tersebut dan menikmati siang dengan menggalau melihat Twin Tower dari dekat.

Depan Twin Tower

Tempat buang anak


Setelah agak bosan dengan twin tower kami bertolak ke KL Tower, kalau dari Twin Tower sih terlihat dekat. Ternyata, itu hanya ilusi belaka. Dengan bermodal kaki dan disinari matahari yang terik kami bernyasar-nyasar hingga sampai di KL Tower. KL Tower ini tempatnya agak berbukit (jadi biar ada efek kayak pake sepatu hak mungkin). Sampailah kami di kaki KL Tower. Karena kami bertekad menekan dompet kami supaya jarang keluar, kami tidak naik ke atas. Dan menikmati indahnya KL Tower saat itu. Dengan dengkul yang agak cenut-cenut kami pulang ke Chow Kit. Stesen terdekat dari sini ialah Bukit Nanas, tapi karena kami setelah melihat relnya monorel sudah kegirangan, kami telusurilah relnya sampai stesen Raja Chulan.
KL Tower

Sesampainya di hostel keadaan tubuh sudah agak menurun akibat kecapekan. Angin ribut pun mulai merasuk raga ini, berbekal Tola* Angi* saya coba melawan angin ini.

Hari – 3 , KL: Masjid Jamek – Dataran Merdeka dan sekitarnya – Masjid Negara – Bird Park & Orchid Park

Ternyata benar, tubuh saya sudah diserang angin ribut. Dengan jiwa traveler yang kuat, saya tahan serangan ini.

Perjalanan selanjutnya ialah menuju Masjid Jamek. Oiya, hari saya melakukan perjalanan ini adalah hari jumat. Dan saya sengaja buat supaya saya bisa Jumatan di antara Masjid Jamek atau Masjid Negara.
Teh Gugel Maps bilang kalo mau ke Masjid Jamek kami harus naik LRT dari PWTC ke Stesen Masjid Jamek. PWTC – Chow Kit berkisar 1,3 km. Berbekal dengkul lagi, kami jalan ke stesen PWTC dan naik LRT ke Masjid Jamek. Setelah nyasar-nyasar, dari Stesen kami sampai di Masjid Jamek (ternyata tepat di sebelah stesennya makanya Masjid Jamek jadi nama Stesennya). Dan kami harus kecewa karena Masjid Jamek ditutup untuk keperluan Shalat Jumat. Oke, lanjut perjalanan ke Dataran Merdeka. Masih jalan kaki kami akhirnya sampai di Dataran Merdeka. Di sekitar sini ada beberapa landmark yang menarik:

1. Tiang Bendera setinggi 100 meter


2. Sultan Abdul Samad Building

3. KL City gallery

4. Historical Museum (saya nggak kesini)

Penjelasan masing-masing tempat bisa disearch di gugel lah ya.
Sudah mau Jumatan kami bertolak ke Masjid Negara, sekitar jalan 15 menit dari dataran merdeka. Disana kami disuguhi pasar jumat, macem di Salman lah tapi lebih besar. Ternyata saat saya shalat disini ada tamu dari Brunei Darussalam dan Perdana Menteri Malaysia (saya tidak melihat langsung tapi hawa-hawanya seperti itu). Overall, masjid ini tidak lebih besar dari Istiqlal tetapi arsitekturnya cukup menarik.

Masjid Negara


Lanjut perjalanan ke Bird Park dan Orchid Park. Bagi yang tidak terlalu suka kedua hal tersebut saya sarankan tidak kesana karena kalau jalan cukup jauh dan menanjak. Tapi worth to try..
Dari Masjid Negara bisa lanjut ke Bird Park melewati jalan sepi yang agak menanjak di sebelah masjid. Ikuti saja petunjuk arah yang ada, kalau bingung juga bisa pakai kompas mulut.
Karena saya tidak jadi masuk Bird park karena bayar, maka saya hanya masuk di Orchid Park.

Orchid Park


Dari Orchid Park kami kembali ke arah Masjid dan menemui miniature Stonehenge. Foto-foto dulu buat koleksi. :D

Sekembalinya ke Masjid Negara, bisa langsung naik Komuter untuk kembali ke Chow Kit via Putra Stesen.
Sebelum pulang ke Hostel saya menemui warung penjual Roti Canai. Semencobanya saya langsung jatuh hati. Disini tidak hanya ada Roti canai tetapi berbagai macam variannya seperti Roti Telur (canai kasih telur), Sardin dan sebagainya. Kami langsung berpikir, mantap nih warung buat sarapan besok.

Roti Telur

Sepulang hostel dengan membeli amunisi untuk meredakan angin ribut saya melakukan berbagai upaya yang diperlukan (kerokan, red.) dan minum obat cina serta berdoa supaya anginnya cepat reda.
Amunisi Melawan Angin Ribut


Hari – 4, KL: China Town/Petaling Street
Setelah minum berpuluh butir obat cina, saya sudah agak baikan. Seperti yang sudah saya rencanakan sebelumnya, kami sarapan di warung “andalan” kami. Saya makan roti Sardin dan teman saya makan roti Telur Bawang. Kalau kata Pak Bondan Mak Nyoss lah..

Roti Sardin

Teh Tarik (kalau di Malaysia dan Singapura sebutnya Teh)


Oke hari ini kami berencana beli oleh2 di Petaling Street di sekitar China Town. Untuk kesana kami menggunakan Monorel dari Chow Kit dan turun di Stesen Maharajalela. Setelah agak bingung kemana Petaling Streetnya kami sampai di tempat yang mirip Pasar Baru Jakarta. Jalannya mirip sekali, bedanya ada penjual makanan Cina yang mengandung B2.
Saya merekomendasikan tempat ini untuk dijadikan tempat beli oleh2. Mulai dari kaos hingga pajangan ada di sini. Pintar-pintar tawar aja kalau di sini. Nggak beda jauh kayak nawar di Indonesia kok. ;)
Jalan Petaling

Kami tidak ada kegiatan selanjutnya sebenarnya tapi kami kebetulan ketemu Sri Mahariatman Temple. Pura-pura India juga, tapi hiasan di atas pintunya yang cukup menarik.

Sri Mahariatman Temple


Kami pun kembali ke hostel lagi. Lalu malam harinya kami disarankan untuk makan Tom Yam. Dan rasanya mantap juga! (maaf, karena kelaparan jadi tidak difoto) mala mini pun jadi malam terakhir dari perjalanan panjang kami di Kuala Lumpur. Terimakasih Kuala Lumpur atas keramahannya kepada kami.

Perjalanan ke Singapura akan dilanjutkan ke postingan saya selanjutnya. Karena ternyata lama juga membuat blog.. -_-

Sumber: